Yesteryear karya Caro Claire Burke: Membuka sisi gelap perempuan saleh dan budaya performatif media sosial

Yesteryear karya Caro Claire Burke: Membuka sisi gelap perempuan saleh dan budaya performatif media sosial

“Sinting.”

Itu kata yang berkali-kali keluar dari mulut saya selama membaca novel ini.

Sebuah umpatan kasar yang, dalam kasus ini, justru terasa seperti tanda bahwa Caro Claire Burke berhasil menulis novel yang mampu mengendalikan emosi pembacanya dengan begitu sempurna.

Sebelum masuk kedalam review, saya harus memperjelas satu hal yang menurut saya penting. Buku ini sepertinya memang memangsa perempuan seperti saya. Saya jauh dari sempurna dan sering kali dikendalikan oleh amarah, terutama ketika menyangkut isu gender, harga diri, hak, dan otonomi perempuan.

Karena itu, ketika membaca Yesteryear, saya merasa seperti sedang dipaksa masuk ke dalam kepala seseorang yang nilai-nilainya sangat bertentangan dengan apa yang saya percaya. Dan saya membencinya.

Novel ini mengangkat isu yang sudah lama membuat saya khawatir, yaitu tren influencer yang berpura-pura menampilkan dan mengajarkan nilai-nilai tradisional seperti pronatalisme, kepatuhan terhadap suami, penolakan terhadap kehidupan modern, serta romantisasi kehidupan perempuan di masa lalu.

Bagi saya, performativitas semacam ini sulit ditoleransi. Terutama karena banyak dari mereka justru dapat hidup dan meraup keuntungan dari ajaran tentang “kesederhanaan” dan “ketidakberdayaan” yang mereka jual kepada perempuan lain.

Coba dipikir.

Seorang influencer bisa meraup jutaan dari video yang mengajarkan perempuan muda untuk menjadi tidak berdaya dan menggantungkan hidupnya pada laki-laki. Padahal, di balik layar, mereka sendiri adalah perempuan berpendidikan yang mampu membuat perencanaan bisnis kompleks agar usaha mereka menghasilkan keuntungan besar. Mereka menjual merchandise, memonetisasi konten, membangun personal brand, berbicara di seminar, podcast, dan media, serta mengubah kehidupan “tradisional” mereka menjadi sebuah bisnis yang sangat modern.

Mereka menjadi kaya.

Dan yang menjadi taruhannya adalah perempuan-perempuan muda yang mungkin akhirnya berpikir bahwa pendidikan tidak penting, bahwa kemandirian adalah sesuatu yang harus dihindari, atau bahwa menyerahkan kendali atas hidup kepada laki-laki adalah bentuk kesalehan.

Sementara di luar sana, masih begitu banyak perempuan yang mati-matian berusaha keluar dari lingkaran patriarki agar bisa memiliki otonomi atas tubuh dan hidup mereka sendiri.

Setiap kali melihat konten semacam itu, saya selalu punya pikiran yang sangat jahat seperti mendoakan suatu hari mereka terbangun sebagai salah satu perempuan yang tinggal negara ekstrimis, yang hak-haknya dirampas, sehingga mereka bisa menyaksikan sendiri seberapa menghancurkannya ideologi yang mereka sebar luaskan, dan merasakan sejauh mana mereka masih bisa setia pada nilai-nilai tradisional yang selama ini mereka ajarkan.

Dan di situlah letak kejeniusannya Yesteryear.

Caro Claire Burke membuat Natalie Heller Mills, seorang perempuan lulusan Harvard yang sukses membangun kekayaan melalui persona sebagai trad-wife influencer, tiba-tiba terbangun di tahun 1855.

Ketika mendengar premis tersebut, saya merasa HARUS membaca buku ini. Saya ingin menyaksikan segala penderitaan yang harus mereka alami ketika benar-benar menjadi “perempuan tradisional” di masa lalu. Masa ketika alat-alat modern yang mempermudah hidup kita belum ada dan ketidakhadirannya tidak bisa direkayasa untuk kebutuhan konten.

Karena selama ini, Natalie bisa menyembunyikan semuanya.

Peralatan memasak modern disembunyikan dari kamera. Enam anak yang terlihat seperti hasil dari kehidupan domestik yang sempurna ternyata dibantu oleh tiga orang pengasuh. Ada sutradara, staf peternakan, produser, dan berbagai macam bantuan lain yang membuat kehidupan “tradisional” Natalie bisa berjalan.

Kamera hanya memperlihatkan apa yang ingin ia perlihatkan.

Dan seperti yang ditulis Burke, Natalie bahkan sampai memisahkan dirinya menjadi dua sosok: Online Natalie dan dirinya yang sebenarnya. Ada satu bagian yang menurut saya sangat menggambarkan betapa busuknya konstruksi persona tersebut:

“Spending so much time in the world of Online Natalie…”

Kutipan itu terasa sederhana, tetapi justru menjadi inti dari karakter Natalie. Ia begitu lama memainkan versi dirinya yang sempurna sampai kehidupan yang sebenarnya mulai terasa asing baginya.

Dan Caro Claire Burke melakukannya dengan sangat baik.

Terlepas dari segala upaya Natalie untuk menjadi sosok perempuan Kristen tradisional yang ia tampilkan, isi pikirannya justru sangat gelap.

Perempuan yang mengaku memiliki begitu banyak cinta terhadap Tuhan dan keluarganya ternyata menyimpan begitu banyak kebencian.

Hal itu terlihat dari dinamika hubungannya dengan perempuan-perempuan lain yang memiliki nilai berbeda dengannya. Salah satunya Reena, yang setiap hari ia pantau melalui media sosial seperti seorang penguntit yang mengerikan.

Isi kepala Natalie sungguh memuakkan bagi saya.

Rasa muak saya terhadap perempuan ini hampir tidak bisa diukur. Beberapa kali saya harus berhenti membaca hanya untuk mengendalikan emosi. Bahkan ada saat ketika saya berhenti membaca selama berhari-hari karena saya benar-benar tidak ingin tahu apa lagi yang akan keluar dari kepala perempuan ini.

Namun bagian paling membuat saya tertekan justru adalah kenyataan bahwa Natalie sering kali menempatkan kemarahannya di tempat yang benar.

Salah satunya adalah kemarahannya terhadap suaminya sendiri.

Hampir sepanjang cerita, Natalie sebenarnya mampu melihat berbagai bentuk ketidakadilan gender yang terjadi tepat di depan matanya. Ia tahu. Ia menyadarinya. Ia bahkan marah terhadapnya.

Tetapi semuanya ia pendam dan tahan demi mempertahankan citra yang sudah ia bangun.

Beberapa kali saya hampir tertipu dan berpikir bahwa mungkin, pada momen tertentu, Natalie akhirnya akan mengubah cara pandangnya.

Saya salah.

Berkali-kali.

Natalie tetap menjadi Natalie. Dengan segala keyakinannya yang cacat, kontradiktif, dan menyebalkan.

Dan mungkin justru itu yang membuat karakter ini begitu menarik. Burke tidak memberi kita perjalanan pertobatan yang mudah. Natalie tidak tiba-tiba menjadi perempuan baik hanya karena ia mengalami penderitaan. Ia tetap membawa sebagian besar kebusukan dirinya kemanapun ia pergi.

Termasuk ketika ia terbangun di tahun 1855.

Natalie memang cukup menderita di sana. Tetapi entah mengapa, semua penderitaan yang ia alami terasa tidak sebanding dengan penderitaan yang diterima anak-anaknya.

Mary, Abel, Noah, dan Mauve.

Anak-anak ini benar-benar membuat saya merasa bersyukur terlahir di zaman yang serba mudah.

Hubungan Natalie dengan suaminya pun menjadi jauh lebih beracun daripada sebelumnya. Dan situasi tersebut akhirnya membuat Natalie mencoba kabur berkali-kali.

Di sela-sela semua penderitaan itu, cerita terus bergerak melalui kilas balik tentang masa lalu Natalie. Sedikit demi sedikit, Burke membuka fakta-fakta gelap di balik kesuksesan Natalie sebagai influencer dan di balik keberhasilannya mempertahankan citra sebagai perempuan Kristen tradisional.

Semakin banyak yang terungkap, semakin sulit untuk percaya pada apa pun yang selama ini kita pikir kita ketahui tentang Natalie.

Ada begitu banyak hal mencengangkan dalam masa lalunya yang disisipkan di antara usaha Natalie untuk melarikan diri dari situasi yang terasa seperti jebakan. Sampai akhirnya, novel ini membawa pembaca menuju sebuah pelintiran alur yang membuat saya benar-benar berhenti sejenak dan bertanya:

Sebentar. Jadi selama ini apa yang sebenarnya terjadi?

Tentang bagaimana Natalie bisa terjebak di masa lalu, dampak dari kejadian tersebut, dan bagaimana pada akhirnya ia mulai menyadari bahwa sebagian besar hal yang ia yakini selama ini sebenarnya merupakan bentuk pengkhianatan terhadap dirinya sendiri.

Salah satu bagian yang paling saya sukai adalah ketika Natalie merasa lega setelah mengetahui bahwa ia sudah menopause dan tidak lagi bisa hamil atau melahirkan.

Ironisnya, sesuatu yang mungkin menjadi mimpi buruk bagi Natalie di awal cerita justru menjadi salah satu titik awal perubahan dalam dirinya.

Dan saya menyukai ironi itu.

Karena sepanjang hidupnya, tubuh Natalie selalu menjadi bagian dari performanya. Menjadi ibu. Melahirkan. Menjadi istri. Menjadi perempuan yang “sempurna”. Semua itu dibungkus sebagai pilihan, tetapi pada saat yang sama menjadi identitas yang tidak boleh ia tinggalkan.

Sampai akhirnya tubuhnya sendiri merasa cukup.

Ada satu kalimat lain dari novel yang menurut saya sangat tepat menggambarkan keseluruhan perjalanan Natalie:

“My name was Natalie Heller Mills, and I was perfect at being alive.”

Kalimat itu terdengar seperti kebanggaan. Tetapi setelah menyelesaikan bukunya, saya justru membacanya sebagai sesuatu yang tragis. Karena Natalie memang sangat pandai menjadi “sempurna”. Ia hanya tidak pernah benar-benar belajar bagaimana menjadi dirinya sendiri.

Begitu menyelesaikan Yesteryear, saya hanya bisa termenung sebentar. Bukan untuk memikirkan apa-apa. Tapi untuk merasa lega karena akhirnya saya bisa keluar dari kepala Natalie. Keluar dari pikiran perempuan yang selama ratusan halaman membuat saya merasa tercekik dan sesak.

Menyelesaikan buku ini terasa seperti akhirnya berhasil keluar setelah sekian lama tersesat di sebuah lorong yang gelap. Dan mungkin itu pujian terbesar yang bisa saya berikan kepada Caro Claire Burke.

Saya membenci Natalie. Saya membenci isi kepalanya. Saya membenci betapa seringnya saya setuju dengan kemarahannya. Dan yang paling saya benci adalah kenyataan bahwa selama membaca buku ini, saya terus berharap perempuan ini akhirnya sadar. Entah apakah ia benar-benar sadar pada akhirnya, saya serahkan kepada pembaca untuk menilainya sendiri.