Buku ini adalah sebuah hadiah ulang tahun yang datang sangat tepat waktu. Yaitu ketika saya baru saja memulai hidup baru di sebuah pulau yang mampu menyembuhkan segala luka. Anxious People yang ditulis oleh Fredrik Backman adalah sebuah karya kontemporer yang paling telanjang dalam memotret isi kepala masyarakat modern yang sedang sekarat karena kecemasan.
Buku ini merupakan sebuah satir komedi yang gelap sekaligus tamparan keras bagi tatanan sosial yang memaksa semua orang terlihat “baik-baik saja” di tengah tuntutan ekonomi dan eksistensial yang mustahil. Backman tidak meromantisasi kecemasan sebagai fase pendewasaan yang indah, sebaliknya, ia menunjukkannya sebagai penyakit sistemik yang membuat kita semua menjadi rentan, egois, dan di ambang kehancuran.
Seperti yang kita ketahui bahwa di mana dalam dunia modern yang serba cepat, manusia dituntut untuk menjadi fungsional secara konstan menjadi orang dewasa yang tahu cara membayar cicilan, mempertahankan pernikahan, dan membesarkan anak tanpa boleh terlihat bingung. Di buku ini, Backman sebenarnya sedang mengurung sekelompok manusia ke dalam sebuah ruang isolasi psikologis melalui premis yang sekilas terdengar konyol. Yaitu sebuah perampokan bank yang gagal total dan berujung pada penyanderaan di sebuah acara open house apartemen.
Cerita ini berpusat pada seorang perampok amatir yang panik karena gagal merampok bank tanpa uang tunai, lalu terjebak di dalam apartemen bersama sekelompok calon pembeli yang egois, sinis, dan menyebalkan. Saat pertama kali mereka berkumpul, yang paling membuat saya takjub adalah bagaimana kecemasan telah memanifestasikan diri mereka menjadi karakter-karakter yang defensif. Ada pasangan tua yang pernikahannya hambar dan hanya disatukan oleh obsesi merenovasi rumah, ada wanita karier kaya raya yang sinis dan mengukur segala hal dengan angka, ada pasangan muda yang ketakutan setengah mati menghadapi peran baru sebagai orang tua, dan ada seorang wanita lansia yang tampaknya sudah kehilangan alasan untuk hidup.
Anehnya, kegaduhan yang terjadi di dalam ruangan itu bukan karena rasa takut pada sang perampok yang memegang senjata. Mereka justru panik karena terpaksa berhadapan dengan ego dan trauma masing-masing di depan orang asing. Melalui kilas balik dan dialog yang cepat, Backman membongkar narasi pilu di balik setiap karakter. Kita melihat bagaimana sistem ekonomi modern telah menciptakan ilusi bahwa nilai seorang manusia ditentukan dari properti yang mereka miliki atau jabatan yang mereka pangku. Mereka semua adalah orang-orang dewasa yang ketakutan, yang setiap pagi terbangun dan mengenakan “topeng sosial” mereka, sementara di dalam hati mereka menjerit karena tidak tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan dengan hidup ini.
Kepanikan memuncak ketika polisi yang digambarkan melalui hubungan ayah-anak yang disfungsional dan penuh kecacatan komunikasi, berusaha menyelesaikan kasus ini dari luar. Kompleksitas cerita ini mulai mengoyak hati saya ketika sang perampok, yang awalnya kita kira adalah kriminal jahat, ternyata hanyalah seorang ibu tunggal yang terancam kehilangan hak asuh anaknya lantaran tidak bisa membayar uang sewa.
Bagian yang paling memilukan sekaligus menjadi titik balik emosional dalam novel ini adalah ketika sekelompok orang asing yang menyebalkan ini mulai menyadari bahwa mereka semua berbagi rasa sakit yang sama. Penghakiman sosial yang awalnya saling mereka lemparkan perlahan runtuh. Ketika mereka mengetahui alasan sang perampok berbuat nekat, terjadi sebuah pergeseran psikologis yang luar biasa. Kelompok sandera ini melakukan sebuah “pemberontakan kolektif” yang aneh. Bukannya menyelamatkan diri, mereka justru bersekongkol untuk melindungi sang perampok dari kepolisian. Mereka mengacak-acak kesaksian, berbohong secara kompak, dan menciptakan ruang aman bagi satu sama lain.
Di awal bab, Backman sembpat menbahas sebuah kematian pilu yang hadir dalam sebuah peristiwa bunuh diri seorang pria di masa lalu. Sebuah peristiwa traumatis yang secara tidak langsung menghubungkan benang merah takdir para karakter di sana. Kematian pria itu adalah pengingat konstan bahwa ketika masyarakat gagal mendengarkan jeritan kecemasan warganya, kehancuran adalah kepastian.
Melalui penyelesaian yang getir yang penuh empati, Backman memberikan kita sebuah kesimpulan yang kuat. Menjadi “anxious” atau cemas dalam dunia hari ini bukanlah sebuah aib, melainkan respons logis terhadap dunia yang sering kali tidak masuk akal. Bagian paling menohok dari narasi ini adalah fakta bahwa setelah pintu apartemen terbuka dan penyanderaan berakhir, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar sembuh dari masalah hidupnya. Cicilan tetap harus dibayar, ketakutan menjadi orang tua tetap ada, dan kesepian tidak mendadak hilang. Namun, mereka keluar dari ruangan itu dengan kesadaran baru bahwa manusia tidak dirancang untuk menopang beban eksistensi ini sendirian.
Pada akhirnya yang ditawarkan buku ini adalah sebuah alternatif yang menantang skeptisisme kita. Backman menunjukkan bahwa di tengah sistem yang dingin dan kapitalistik, satu-satunya cara agar kita bisa tetap hidup adalah dengan berani menurunkan pertahanan diri, mengakui bahwa kita sedang hancur, dan bersandar pada sesama manusia yang sama-sama rapuh. Buku ini adalah sebuah elegi sekaligus deklarasi, bahwa menjadi manusia yang bingung dan cemas adalah sebuah tragedi kolektif yang, setidaknya, harus kita tanggung bersama-sama.
