Metamorphosis oleh Franz Kafka: Dehumanisasi, dan gambaran hubungan keluarga yang transaksional

Metamorphosis oleh Franz Kafka: Dehumanisasi, dan gambaran hubungan keluarga yang transaksional

Menurut saya, jika ada sebuah karya klasik yang sangat cocok dibaca oleh para sandwich generation yang saat ini mengabdikan hidupnya demi keluarga, karya itu adalah Metamorphosis milik Franz Kafka.

Buku ini tidak mengajarkan perencanaan keuangan atau nilai-nilai keikhlasan dan keberkahan yang tersembunyi di balik pengorbanan seorang anak selayaknya film-film yang sedang ramai diputar di bioskop-bioskop Indonesia. Sebaliknya, Kafka justru melayangkan kritik tajam terhadap sistem sosial kapitalisme dan hubungan keluarga yang transaksional, alih-alih meromantisasinya sebagai pengorbanan tanpa batas yang harus diterima dengan lapang dada.

Kritik tersebut disampaikan Kafka melalui analogi ekstrem, yaitu dalam sebuah keluarga yang transaksional, nilai seorang anak sebagai manusia hanya ditentukan dari seberapa bermanfaat dirinya bagi kelangsungan hidup keluarga. Sepanjang membaca buku ini, saya terus teringat kutipan Arthur Schopenhauer, filsuf yang terkenal dengan aliran pesismismenya. Pandangan Schopenhauer terasa sangat tepat untuk menggambarkan ironi metafora dalam cerita ini, yaitu tentang bagaimana orang tua melahirkan anak atas dasar keegoisan belaka, tanpa pernah memikirkan beban eksistensi yang harus ditopang oleh anak tersebut kelak.

Cerita ini diawali oleh seorang pria bernama Gregor Samsa yang tiba-tiba terbangun dalam tubuh serangga besar. Berdasarkan deskripsi di dalam buku, yang tergambar di kepala saya adalah seekor kecoak raksasa berkepala manusia. Bertubuh besar, berkaki-kaki kecil, dan kesulitan luar biasa hanya untuk membalikkan posisi badannya.

Saat terbangun, hal yang paling membuat saya takjub adalah seberapa “tenang” karakter ini menerima kondisinya. Dia hanya terbaring di tempat tidur sambil memikirkan nasibnya pagi itu. Sebagai seorang salesman handal yang biasa menghadapi pagi yang sibuk, Gregor hari ini hanya bisa terdiam dan berpikir. Anehnya, ia bukan memikirkan mengapa dan bagaimana tubuhnya bisa mendadak bertransformasi menjadi serangga, melainkan bagaimana ia harus memulai hari dan mencoba mengenali tubuh barunya.

Di sela-sela usahanya, narasi cerita terus menegaskan peran Gregor sebagai tulang punggung keluarga yang memikul seluruh tanggung jawab finansial. Novel ini juga menceritakan bahwa Gregor sebenarnya sudah sangat muak dan ingin berhenti menjadi salesman karena atasannya bertindak semena-mena. Namun, impian itu terpaksa dikubur dalam-dalam. Orang tua Gregor masih memiliki utang besar yang wajib ia lunasi, dan di sisi lain, ia juga harus membiayai sekolah adik perempuan yang sangat dicintainya, Grete.

Ketenangan pagi itu tidak bertahan lama. Gregor mulai panik saat melihat jam dinding. Ia sadar telah melewatkan kereta pertamanya. Tak lama berselang, orang tuanya mulai mengetuk pintu kamar. Ini adalah awal mula dari kegaduhan hari itu. Orang tua Gregor memaksanya keluar, namun Gregor yang masih menyesuaikan diri dengan anatomi barunya kesulitan setengah mati untuk bergerak, meski ia sudah berusaha sekuat tenaga.

Kepanikan memuncak ketika Gregor mendengar suara manajernya bergema dari balik pintu depan. Gregor mencoba merespons dari dalam kamar, tetapi suara yang keluar terdengar asing dan mengerikan. Seperti desis seekor serangga. Karena tekanan dari luar yang semakin besar dan dorongan kuat untuk mempertahankan pekerjaannya, Gregor memaksakan diri turun dari tempat tidur. Ia bersusah payah memutar kunci pintu menggunakan rahangnya. Pada momen ini, Kafka menggambarkan cairan cokelat yang saya asumsikan sebagai darah keluar dari mulut Gregor.

Begitu pintu terbuka dan wujud serangganya tampak, reaksi orang-orang di sekitarnya sungguh menyedihkan untuk disaksikan. Sang manajer langsung mundur sambil menutup mulutnya penuh rasa jijik dan takut, lalu lari tunggang-langgang meninggalkan rumah. Sang ibu seketika pingsan di atas gaunnya yang berantakan. Sementara sang ayah menangis histeris sembari mengambil tongkat manajer yang tertinggal, lalu menggunakannya untuk menghalau dan mengusir Gregor kembali ke kamarnya. Proses pengusiran paksa ini membuat tubuh Gregor yang tersangkut di celah pintu terluka parah, bersimbah darah, dan membuat salah satu kakinya cedera serius hingga pincang permanen.

Peristiwa tragis itu menjadi awal dari penderitaan panjang Gregor. Sejak hari itu, ia dikurung total di dalam kamarnya, disembunyikan layaknya aib keluarga yang tidak boleh diketahui siapa pun. Awalnya, Gregor masih mendapatkan perhatian kecil berupa makanan seperti keju basi dan sisa-sisa hidangan. Untuk mengusir stres, ia mulai beradaptasi dengan merangkak di dinding dan langit-langit kamar.

Melihat kebiasaan baru ini, Grete berinisiatif mengosongkan perabotan agar sang kakak bisa leluasa merangkak. Namun, keputusan itu justru memicu kepanikan dalam diri Gregor. Baginya, perabotan kamar tersebut adalah benang merah terakhir yang mengikat identitasnya sebagai seorang manusia. Demi mempertahankan setidaknya satu benda, Gregor merangkak naik dan menutupi sebuah lukisan dinding. Malang, aksi ini malah membuat ibunya yang tak sengaja melihat kembali pingsan.

Mendengar sang istri pingsan untuk kesekian kalinya, ayah Gregor murka. Ia mulai melempari Gregor dengan apel secara brutal hingga salah satunya menancap di punggung Gregor. Apel itu dibiarkan membusuk di sana karena tidak ada satu pun anggota keluarga yang berani mengambilnya. Akibat luka infeksi tersebut, tubuh Gregor kian melemah dan mobilitasnya lumpuh selama berbulan-bulan.

Kondisi Gregor yang tidak lagi bekerja berdampak sangat signifikan terhadap roda ekonomi keluarga. Di sinilah sebuah pengkhianatan kejam terungkap. Untuk pertama kalinya, Gregor mendapati kenyataan bahwa ayahnya ternyata memiliki setumpuk uang simpanan yang selama ini disembunyikan untuk bertahan hidup. Dengan tubuh yang ternyata masih sehat, sang ayah akhirnya mulai bekerja kembali, diikuti oleh ibu dan adiknya. Keluarga yang selama ini Gregor pikir hanya bisa bergantung padanya, ternyata mampu berupaya secara mandiri ketika terdesak. Sebelumnya, Gregor hanya melihat ayahnya sebagai sosok orang tua renta yang kerjanya cuma duduk di kursi malas hingga ketiduran.

Kendati demikian, penghasilan baru mereka tetap belum mencukupi. Hilangnya sumber pemasukan utama dari Gregor memaksa mereka menyewakan salah satu ruangan rumah kepada tiga orang asing. Sejak saat itu, kamar Gregor semakin diabaikan, bahkan dialihfungsikan menjadi tempat pembuangan barang bekas dan sampah.

Pada suatu malam, Gregor mendengar lentingan melodi biola yang dimainkan oleh Grete untuk para penyewa kamar. Terpesona oleh musik adiknya, Gregor tanpa sadar merangkak keluar kamar untuk menyaksikan penampilan tersebut. Kemunculan wujud serangganya seketika memicu kekacauan besar. Para penyewa kamar merasa jijik sekaligus marah, hingga menolak membayar uang sewa.

Peristiwa ini menjadi titik balik bagi Grete. Sosok yang semula menjadi satu-satunya orang yang peduli pada Gregor, kini dengan lantang menghasut orang tuanya. Ia menegaskan bahwa makhluk menjijikkan itu bukan lagi kakaknya, dan mereka harus segera menyingkirkannya karena sudah menjadi beban total bagi keluarga.

Penolakan dari adik kesayangannya membuat Gregor patah hati yang teramat dalam. Dengan tubuh yang sudah sangat rapuh, ia merangkak kembali ke kamarnya sendiri, merenungi nasib keluarga yang amat dicintainya dengan kesedihan yang mendalam. Menjelang fajar, Gregor mengembuskan napas terakhirnya sendirian dalam kondisi mengenaskan akibat kelaparan dan infeksi luka yang parah.

Saat ditemukan oleh pelayan rumah tangga keesokan harinya, mayat Gregor telah mengering dan langsung dibuang begitu saja ke tempat sampah. Alih-alih merasa sedih atau bersalah, keluarga Gregor justru bernapas lega dan merayakan kematiannya. Mereka segera memecat pelayan tersebut, lalu pergi berlibur ke pusat kota untuk membuka lembaran hidup yang baru dan mengubur kisah lama mereka bersama Gregor.

Setelah menyelesaikan buku ini, saya sepenuhnya paham bahwa bertransformasi menjadi serangga hanyalah metafora ekstrem yang diciptakan oleh Kafka. Realitasnya, serangga itu bisa berwujud penyakit kritis, kecacatan permanen, atau hilangnya produktivitas yang membuat seorang manusia kehilangan “fungsinya” di mata sistem sosial, lalu berubah menjadi beban kolektif yang mungkin diam-diam dinanti kematiannya.

Bagian paling memilukan dari seluruh narasi ini adalah ketika Grete melakukan rasionalisasi psikologis untuk membenarkan kekejamannya. Ia berkata, “Kita harus menyingkirkannya… Jika ini memang Gregor, dia pasti sudah sadar sejak lama bahwa manusia tidak bisa hidup bersama binatang seperti itu.” Grete harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa makhluk di dalam kamar itu bukan lagi kakaknya demi menghapus rasa bersalah. Ketika masyarakat atau bahkan keluarga telah sampai pada titik ini, kematian sang penderita tidak akan pernah ditangisi sebagai sebuah tragedi, melainkan dirayakan secara diam-diam sebagai sebuah pembebasan kolektif.